Senin, 03 November 2014

Obituary: Bapak

Tak dinyana, saya menulis sesuatu bertajuk obituary (berita kematian). Bapak, pula, yang saya jadikan sosok ter-obitaury itu. Ini sudah lebih dari sebulan beliau pergi menghadap Penciptanya, namun saya baru menulis obituary sekarang. Tidak apa-apa, saya kira Bapak tidak akan keberatan. J

Innalillahi wainnailaihi roji’un. Telah berpulang ke haribaan ilahi Robbi, Bapak saya, Sutego, pada Hari Minggu Legi, tanggal 14 September 2014 di RS Saras Husada Purworejo, pukul 14.55 –setidaknya, waktu inilah yang tertulis di catatan rumah sakit-.

Begitu saja. Obituary selesai.

Sejujurnya, saat merangkai kata-kata di atas, banyak hal terlintas di pikiran saya. Sebagian berupa kenangan, dan sebagian lain –yang jauh lebih besar- adalah pertanyaan. Ada masa lalu bersama beliau yang saya ingat. Dan ada masa depan –tanpa beliau- yang rasanya samar-samar.

Saya takjub mendapati diri saya kangen pada sosok beliau. Bapak. Rasanya, selama ini beliau bukanlah sosok yang kerap saya ceritakan di depan teman-teman saya. Beliau bukan juga seorang yang sering saya bangga-banggakan, seperti banyak teman dekat saya melakukannya. Begitulah. Dibandingkan Ibu, Bapak lebih jarang saya bicarakan. Selama ini saya berpikir bahwa Ibulah, orangtua saya yang terdekat dalam artian fisik dan psikis.

Saya yakin, banyak hal yang Bapak ketahui tentang saya adalah hasil dari informasi yang ‘dibocorkan’ oleh Ibu, dari obrolan-obrolan kami. Ringkasnya, sosok Bapak, bagi saya, seperti bayangan nyata yang saya tau ada, dan saya yakini punya peran, hanya saja saya tidak pernah bisa menjelaskan apa dan bagaimana. Cukuplah gambar pohon dalam tes HTP (House-Tree-Person) saya menjelaskan semua ini kepada pencicip psikologi proyektif: beberapa pohon cemara di kanan kiri jalan-setapak-berkelok menuju sebuah rumah berpintu terbuka.  Ini soal yang terbalik sama sekali dengan sosok Ibu. Ibu, bagi saya, adalah sosok yang touch-able, catch-able, explain-able, hehehee…ini istilah saya sendiri. Mudah-mudahan paham-able :p

Sampai hari ini saya masih berdiam di rumah, dalam arti saya tidak punya keharusan apapun untuk ke luar rumah. Di pagi hari, ketika adik sudah pergi ke sekolah, dan Ibu sudah saya antar ke tempat beliau mengajar, saya akan kesepian. Saya beberapa kali harus mengingatkan diri kembali, bahwa Bapak sudah meninggal. Bapak sudah tidak akan pulang pukul 10, membawa se-kresek uang hasil jualannya di pasar, melemparkannya ke tikar di depan TV, dan menyuruh saya menghitung. Bagaimana pun, beberapa hari ini, rasanya masih seperti dulu. Refleks saya melihat jam dinding pada sekitaran waktu jam 9 atau 9.30, tapi kemudian saya sadar. Apa gunanya?

Saya mesti menata batin saya, untuk tak perlu lagi tergopoh-gopoh menyiapkan segelas besar teh manis hangat di meja makan. Toh tidak akan ada lagi seorang pun protes kalau saya tidak melakukannya. Saya juga tidak perlu lagi mencuci piring dan alat masak sebelum mendengar komentar Bapak, betapa anak sulungnya ini maha-malas. Pun saya tidak perlu lagi menanam alarm dalam pikiran untuk lekas-lekas mematikan TV saat terdengar deru motor Bapak memasuki halaman rumah. Lebih dari semua itu, saya tidak perlu lagi ‘menerawang’ seraut wajah lelah yang muncul dari pintu samping, apakah pemilik wajah itu sedang dalam emosi biasa, bersemangat, atau jengkel. Salah terawang bisa berakibat fatal seharian!


Sekarang, Bapak tidak akan lagi berkomentar, mengatakan apa-apa. Bapak sudah tidak ada.

***
Rumah,
suatu pagi, di antara pagi-pagi yang sunyi

Minggu, 28 Juli 2013

Hari yang Dira Tunggu

Dira…?

Dira?

Dira!

Dira!!!

Dira memanggil dirinya, sekuat tenaga. Memanggil namanya sendiri dengan sisa-sisa hidup yang masih ada. Semua ini, dirinya, hidupnya, seketika hilang. Dira berharap ini terakhir kalinya dia menulis tentang mereka. Bukan. Tentang Dira. Tentang lelaki itu. Terakhir kalinya, karena bulan depan lelaki itu resmi menjadi suami seseorang. Dan saat ini hati lelaki itu pasti dipenuhi wajah calon istrinya. Yang tersenyum malu-malu, memukau, dan cantik. Tak ada tempat lagi buat Dira. Tak ada ruang untuk memikirkan nasib Dira selanjutnya, setelah semua ini. Itulah dia. Akhirnya Dira mengenal lelaki itu, lewat cara tak terkira. Doa itu, “Dekatkan kami, jika berjodoh. Dan berikan takdir terbaik jika kami tidak berjodoh” pun terjawab. Inilah cara terbaik menurut-Nya untuk Dira. Tanpa tarikan kuat yang merebut semua kesempatan itu, pastilah lagi-lagi Dira masih mengaharapkan pepesan kosong. Yang bahkan logikanya pun mengerti konsekuensinya, telah berhitung risikonya, namun menyerah putus asa atas kekeraskepalaannya untuk…’setia’. Lagi-lagi, Dira pasti akan selalu masih berharap, dia dan lelaki itu punya masa depan. Hingga akhirnya hari itu tiba.

Delapan Juni 2013. Dira ingat dengan baik tanggal itu, sebab itu satu hari sebelum Artian, adiknya, berulang tahun. Tak perlulah Dira bersusah payah menghidupkan alarm jam 12 malam untuk mengirimi ucapan Happy Birthday kepada Artian. Seharian itu Dira cukup punya banyak benang kusut yang membuatny urung ternyenyak. Hari itu, lelaki itu menyatakan mundur. Menyatakan bahwa rasa itu hilang sejak 3 tahun yang lalu. “Mungkin karena terbiasa tanpa kamu”, katanya. Dira diam saja. Dira memang tidak tahu mesti berkata apa. Dira tidak ingin menuntut, lelaki itu memang bukan siapa-siapa. Mereka tidak pernah berikrar untuk menjadi apa-apa. Dira pun tak ingin menyerang, walau amunisi itu sempurna berbaris di kepalanya, siap dimuntahkan. Apa gunanya? Bukankah lelaki itu tidak memberikan pilihan? Bukankah Dira di sini hanya untuk menyimak keputusan? Ya. Bahwa lelaki itu ingin di antara mereka tidak ada apa-apa. Baiklah. Lelaki itu mendapatkan yang diinginkannya. Selamat!

Satu setengah bulan kemudian, melalui Watsap lelaki itu bercerita. Pada pertemuan terakhir dengan Dira, dia sedang berta’aruf dengan seseorang, dan tidak menyangka berhasil secepat ini. Dira merasa dituntut untuk tiba-tiba paham, bawa sebentar lagi lelaki itu akan menikah, tapi bukan berarti lelaki itu ‘berpaling’ darinya. Bahwa gadis pilihan itu datang setelah bertahun-tahun dia tidak punya perasaan apa pun pada Dira, tidak berharap apa pun dari Dira. Jadi, gadis ini bukan datang ‘menggeser’ tempat Dira. Tapi mengisi tempat kosong yang memang sudah tanpa pemilik. “Hahh…sejak kapan pula lelaki itu menarik sertifkat tempat dari kepemilikanku?”, dalam hati Dira tak mengerti. Oh ya, sudah kujelaskan di awal, lelaki itu dan Dira tidak pernah berikrar sebagai apa-apa, jadi jelaslah sertifikat itu juga tidak pernah ada. Tampaknya laki-laki itu peduli benar untuk tidak dianggap berpaling hati. Berkhianat.

Membaca pesan di Watsap tentang hasil ta’aruf lelaki itu, tiba-tiba Dira merasa ada yang ngilu di rusuk kirinya. Kakinya gemetar menahan berat tubuhnya sendiri. Isi kepala seketika kosong. Dira bertahan mati-matian untuk bisa tetap sadar dengan semua yang dilakukannya, dengan semua rencana perjalanan yang sedang  dia lakukan. Bahwa saat ini Dira sedang menunggu busway jurusan Harmoni, lalu transit di halte itu untuk menuju pintu busway selanjutnya menuju Halte Grogol. Dari Grogol nanti dia harus turun ke terminal, lalu naik elf merah ke Balaraja. Dira mati-matian mengingat-ingat instrukasi perjalanannya, mengalihkan pikiran yang menolak bertekuk lutut! Hah! Dasar otak keras kepala!

Dalam elf merah yang melaju ugal-ugalan, pikiran Dira memproses informasi dengan semakin gila. Banyak kesimpulan ditariknya keluar. Bahwa Dira yakin gadis itu adalah si ini, yang dia lihat namanya dimunculkan seseorang di komentar foto profil terbaru lelaki itu. Jika itu benar, Dira merasa berhak berpikir bahwa perasaannya diabaikan, sebab mestinya lelaki itu sudah lama mengupayakan ta’aruf dengan si gadis, dan baru ‘memintanya menyingkir’ sebulan kemudian. Dira mencium aroma ketertarikan lelaki itu kepada si gadis sejak dua bulan lalu dengan sebatas melihat nama di media sosial. Dan kesimpulan Dira diiyakan oleh lelaki itu. Pertanyaan terbesar Dira adalah, ke mana sosok Dira selama 3 tahun terakhir bagi lelaki itu?

Ingatan Dira melayang, pada 3 tahun yang dibilang lelaki itu sebagai masa ketika perasaannya pada Dira memang sudah hilang. Dalam tiga tahun itu, harapan Dira pada lelaki itu sama saja dengan 4 tahun sebelumnya. Dalam 3 tahun itu, setidaknya 3 kali mereka bertemu janji untuk sekedar menghabiskan waktu. Setiap pertemuan yang mereka upayakan itu, bagi Dira begitu menyenangkan. Yang Dira temui, selalu, adalah wajah senang yang menikmati perjalanan, obrolan, dan makanan apa saja. Pertemuan-pertemuan itu, kata si lelaki, adalah waktu yang diinginkannya untuk menakar isi hati Dira, dan mengabarkan isi hatinya yang sudah bukan milik Dira lagi. Namun selalu, kata lelaki itu, dia gagal berterus terang pada Dira tiap kali mereka bertemu.

Lelaki itu bilang, “Ketika akhirnya kita bertemu, perasaanku berbalik lagi. Aku merasakan lagi apa yang kurasakan padamu dulu. Dan itu membuatku selalu urung mengatakan padamu bahwa tak ada lagi kamu di hatiku. Bahkan dalam pertemuan kita yang ke-sekian, aku yakin lagi dengan hubungan kita, dan ingin melanjutkannya lebih serius denganmu. Tapi begitu kita berpisah, lagi-lagi, kamu hilang dari hatiku. Aku kadang terpikir untuk mengatakannya lewat pesan atau telepon saja. Tapi, di saat-saat aku terpikir begitu, kita selalu sedang tidak intens berkomunikasi. Aku pikir, kamu sudah melupakanku. Jadi, aku putuskan untuk tidak perlu membahasnya lagi”

Sungguh, ini untuk pertama kalinya Dira kesulitan berkhusnudzon tentang sosok yang rasanya telah sangat dikenalnya selama ini. Bagaimana mungkin? Tiga tahun? Itu artinya lebih dari seribu hari…dan lelaki itu merasa tidak punya kesempatan menjelaskannya?

“Dan apa dia bilang?! Dia merasa aku melupakannya? Perilakuku yang mana, yang membuatnya yakin dia kuhapus dari harapanku? Yang mana? Apakah SMS-SMS ku membuatnya merasa diabaikan? Apakah sapaan ringanku tiap pagi via GTalk, yang membuatnya merasa dilupakan? Apakah permintaanku untuk bisa meneleponlah, yang meyakinkannya aku sudah tak peduli? Apakah setiap ceritaku tentang apa yang kualamilah, yang membuatnya merasa disingkirkan? Dia gila atau apa?!!”, dalam hati Dira semakin tak mengerti.

“Sungguh Ya Rahman….Sungguh ini kali pertamaku kesulitan berkhusnodzon tentang hamba-Mu yang satu itu. Terlepas dari takdir-Mu, bahwa mereka berjodoh, Ya Rahim…hamba-Mu ini merasa ada yang tak adil.”, isak Dira pada Zat Yang Maha Memelihara.

Dira sulit mempercayai kalau lelaki itu tidak tahu menahu soal harapan Dira selama ini padanya. Dira yakin lelaki itu tahu. Atau minimal ge-er, bahwa seorang Dira punya harapan masa depan bersamanya. Dira lebih suka meyakini bahwa lelaki itu tidak mempedulikan perasaannya. Bahwa bagi lelaki itu, perasaan Dira bukan prioritas untuk dijaga. Minima untuk tidak disakiti. Setelah semua yang terjadi ini, Dira paham dia dianugerahi hidup yang luar biasa. Dira berharap, pukulan ini menyeretnya kembali kepada Tuhan-nya yang selama ini ntah diletakkannya di mana.

Balaraja,
Kunjungan pertama.

Kamis, 15 November 2012

Untung DUFAN Hanyalah Dunia Fantasi


Dear readers (kalau ada! Hehehe)

Tulisan kali ini berisi perenungan mendalam saat saya dan beberapa kawan seprofesi digiring oleh pantia acara perusahaan ke Dunia Fantasi (DUFAN). Ceileee... Bahkan di arena se-chaos DUFAN pun saya bisa merenung. Anda kebayang dong, hebatnya saya?? Aahahaa... :D (Abaikan! Just kidding.)

Setibanya kami di DUFAN, teman-teman panitia dari kantor pusat meunjukkan pada kami wahana-wahana apa saja yg ada di sana. Pertama kali yg kami tuju adalah wahana Histeria. Saya menebak, alat permainan itulah yg dirasa paling ngeri sehingga patut dicoba duluan. Saya pikir saya cukup beruntung, mesin si Histeria sedang dalam masa perawatan, sehingga wahana itu ditutup.

Kecewa dengan tujuan spektakuler yg pertama, kami diajak ke tujuan berikutnya yg sudah saya duga sama tidak wajarnya. Hhm...namanya Halilintar. Cetar...Cetar...? Oh, ternyata tidak ada suara semacam itu. Segera saja teman-teman saya bersorak dan masuk lika-liku antrean. Saya yang melihat sekilas si Halilintar memilin-milin penumpangnya, segera tidak tertarik dan menjauhi antrean. Salah seorang teman memaksa saya mencoba mengadu peruntungan di wahana ini, tapi saya berkeras menolak. ”Ah, ntar aja kalo kalian baik-baik saja setelah turun dari situ, mungkin kapan-kapan aku mau mencoba. Hehehee...”, begitu kira-kira saya menghindar. Saya memilih menunggui setumpukan tas dan gadget teman-teman ketimbang di-putar-seret-dorong-kocok-jungkir-balik begitu.

Dalam pertapaan terbuka itulah saya memasuki alam renungan (halah!). Jakarta! Aneh sekali warga kota ini. Di hari-hari kerja yang penuh kepenatan khas kota metropolitan sebuah negara berkembang, dengan temperatur udara di atas rata-rata suhu nusantara, dengan lika-liku jalanan yang rumit dan tak bersahabat bagi warga baru, yang sebagian besar penghuninya merasa harus melakukan aktivitas dengan terburu-buru, yang mengalami kekeringan di usim kemarau dan kebanjiran di musim hujan, yang macet sudah jadi keniscayaan... Warga kota yang hidup dalam hari-hari seperti itu memilih menghabiskan akhir pekannya di arena seperti ini, demi diputar-putar, dijungkir-balik, diseret-dorong, ditarik-ulur... Saya menangkap kejanggalan di titik ini. Inikah kesenangan akhir pekan yang didambakan setelah semingguan penat mengejar target kerja?

Seorang panitia mendadak muncul, mendapati saya teronggok bersama gundukan tas sembari termangu menonton penumpang halilintar yg di-putar-seret-dorong-kocok-jungkir-balik tersebut (asumsi: dia tidak paham, saya sedang merenung). Dia segera ’mengusir’ eksistensi saya dari pose yang menurutnya janggal itu, menyuruh saya naik wahana apa saja yang saya sukai. Okee...perintahnya tidak bisa saya bantah, sebab kebetulan dia bos J. Jadilah saya dan 2 orang teman lainnya kabur dari TKP dan mencari-cari mainan-apa-saja-yang-penting-diam.

Hahahaa...aneh. Kami ke sana kemari dan tidak menemukan permainan semacam itu. Semua permainan yang kami hampiri selalu melibatkan adegan pengacau kondisi homeostatis. Ntah itu diputar horisontal macam komidi putar berkecepatan tinggi yang pastinya bikin mabuk, diputar vertikal macam orang dipaksa salto dalam keadaan duduk, dibolak-balik macam ikan gantung di pasar, ditarik ulur macam yoyo, atau kombinasi dari semuanya (Anda digantung, ditarik-ulur, sekaligus diputar vertikal dan horisontal! Lengkap sudah...). Kalau dipikir-pikir, para penikmat wahana-wahana itu bisa jadi tergolong masokis. Mereka secara sadar memasuki zona siksaan...suka menyakiti diri sendiri. Bukankah itu masokis? (*ngaco tapi serius

Bagi saya semua permainan itu tidak menarik. Saya yakin, saya tidak akan lebih bahagia setelah permainan itu saya selesaikan. Dan saya sama sekali tidak penasaran dengan sensasi yang ditawarkan. Benar-benar tidak alasan bagi saya mencoba satu pun wahana yang kami temui. Bagi wong ndeso seperti saya, cukuplah sensasi itu terwakili oleh sensasi saat take-off dan landing pesawat serta bau khas mobil mewah yang (selalu) memabukkan...huweek...(*ndeso tenan

Seorang panitia yang tampaknya mengerti penderitaan kami sebagai pemabuk, menyarankan kami masuk ke wahana ’statis’ semisal Istana Boneka, Rumah Miring, dan Rumah...lain-lain (saya tidak hafal). Kami mengikuti sarannya, dan sampailah kami di antrian pengunjung Istana Boneka. Tapi....oh..oh..oh..woww...antrean di depan begitu menganak-ular di bawah terik matahari yg memanaskan udara bumi. Maka, kami putuskan mengakhiri kepenasaranan kami melihat boneka apa saja yang boleh menghuni istana DUFAN. Proses mengantri kami hentikan. Saya pikir, mengantri sepanjang ini untuk espektasi kenikmatan yang rendah itu tidak rasional. Waktu kami berbalik untuk keluar antrean, alangkah terkejut....di belakang kami telah berdiri puluhan orang yg mengantri. Alamaaakk...Sejak kapan mereka ada di sana? Baru juga 10 menit kami berdiri di garis terbelakang, sekarang sudah berjibun orang di belakang kami.

DUFAN oh DUFAN. Jakarta oh Jakarta...
Secuil arena DUFAN ini mewakili Jakarta seutuhnya dalam benak saya. Kota yang padat. Semacam overdosis penghuni. Segalanya berjalan lamban karena semua orang bergerak ke arah yang sama. Hal yang populer akan cepat menyebar dan menjadi perhatian. Maka orang akan berbondong-bondong mendapatkan yang populer-populer itu. Ntah itu enak atau tidak, ntah bermanfaat atau tidak, ntah itu dibutuhkan atau tidak. Permainan rasa yang sering mengabaikan logika. Semua orang ke sana, maka saya juga ke sana. Filsafat latah. Alhasil, sebagian besar orang ini menghabiskan waktu lama menunggu giliran demi menikmati sekelumit kesenangan. Mengantri. Atau yang lebih parah: berebut.

Hhm...saya jadi memaksakan diri mendefinisikan arti bersenang-senang bagi diri saya sendiri. Kalau yang disuguhkan di hadapan saya ini tidak memenuhi kriteria dalam definisi ’bersenang-senang’ versi saya, lantas apa dong yang memenuhi? Dalam perenungan itu, saya merenung lagi lebih dalam (serasa ikut kelas hipnosis :p). Stadard bersenang-senang bagi saya ternyata adalah, bisa duduk bersama seseorang di udara terbuka yang teduh. Kami mengobrol sambil minum kopi tanpa kafein (kalau ada). Cukup begitu saja? Hahahaaa...teryata iya. Norak kah?

Terngiang suara salah satu panitia tadi, ”Kamu ayo naik wahana ini... Ini di Jogja ga ada kan yang kaya gini?”. Ingin hati berkata, ”Njuk...?” (translate: Terus...?). Tapi tidak saya katakan. Lagi-lagi, karena dia bos! Hehehee...etika orang Jawa mensyaratkan perlakukan khusus untuk orang-orang ’berkebutuhan khusus’ seperti ini. Hehehehehee :D

Senin, 24 September 2012

Bajumu Lho Mas...


Muadzin sudah menyanyikan lagu penyeru sholat maghrib ketika kami –aku dan seorang teman kos- belum juga sampai di bibir lahan parkir Masjid Kampus. Bergegas kami menuju halamannya untuk mengantri sebungkus nasi dan ta’jil buka puasa. Terlambat. Kardus-kardus sudah kosong melompong ditinggalkan penghuninya. Glek…  Kami ambil satu-satunya yg tersisa saat itu: teh manis. Lalu kami putuskan berjalan keluar area masjid untuk membeli pengganjal lambung.

Kami memilih batagor, di ujung persimpangan sebelah timur masjid. Pertimbangannya sederhana. Itulah makanan pengganjal lambung terdekat yang kami temukan. Sembari menyantap batagor -yang dalam kondisi lapar pun saya masih bisa bilang tidak begitu enak-, saya mengamati si penjual batagor.

Laki-laki. Usianya saya kira masih sangat muda, sekitar 19 tahun atau kurang dari itu. Posturnya kurus, kulitnya putih, dan tingginya sedang. Model rambutnya saat itu acak-acakan. Tapi sepertinya gaya itu memang sengaja dibuat. Hair stylist mungkin lebih bisa menghayati keindahan dalam apa yang saya sebut ‘acak-acakan’ tadi.

Saya tertarik mengamatinya saat dia mulai menyulut rokok. Sambil berdiri menghadapi gerobaknya, dia menikmati tiap hisapan tembakau linting itu. Bisik saya kepada teman kos saya, “Pendapatan dia per hari berapa, ya, dari berjualan kayak begini? Apalagi dia cuman orang bayaran, bukan pemilik usaha. Duitnya pasti ga banyak…tapi dia sempetin juga tuh duit buat beli rokok…”. Teman kos saya yang semula tidak memperhatikan apa yg saya amati, seperti mau tersedak mendengarnya. Dia melirik juga akhirnya ke arah penjual batagor, lalu tersenyum menyetujui pertanyaan iseng saya tadi.

Pengamatan saya lalu beralih ke pakaian pemuda di belakang gerobak batagornya itu. Kemeja kotak-kotak merah. Kontras dg warna kulitnya yang putih. Warnanya cocok. Modelnya? Kemeja ketat. Panjang kemejanya saya rasa tidak wajar. Terlalu pendek. Terlebih dia memakai celana jeans yang cukup ketat, dengan ban pinggang yg melorot sampai pinggul (model celana dan rok yang sedang popular saat ini memang yang terkesan melorot-melorot. Hehee..). Hingga ketika dia bergerak membelakangi kami, memang tampaklah bahwa panjang kemejanya tidak sanggup secara sempurna menutupi badan sampai ke tepi atas ban pinggang yang melorot tadi, alias ada bagian tubuh belakangnya yang belum tertutupi. Hhm…saya hanya merasa miris. “Apa yang dia pikirkan ketika memilih pakaian itu? Ingin tampak modis? Ingin kelihatan elegan? Ingin dibilang….sexy??”, batin saya. Saya rasa dia tidak kelihatan seperti modis, elegan, apalagi sexy.

Bagi saya yang wanita, wanita berbaju ketat dengan celana atau rok yang ban pinggangnya melorot itu lebih masuk akal dibanding pemandangan di belakang gerobak batagor itu. Ada sisi kebanggaan ragawi wanita yang ingin dipamerkan, yang si wanita pikir indah dan ingin orang lain ikut mengakui keindahannya. Konon sebutan “keindahan tubuh” hanya dimiliki kaum hawa. Susah, bukan, mengatakan tubuh laki-laki itu “indah”? Lebih mudah dicerna dan pas, kalau dikatakan ‘proporsional’ atau ‘ideal’. Tapi bukan ‘indah’.

Dan makhluk di belakang gerobak tadi laki-laki…..hello…apa yang dia pikir bisa dia pamerkan dengan baju seperti itu?? Saya wanita. Dan satu-satunya yang membuat saya tertarik memperhatikan penampilannya adalah karena penampilannya begitu ganjil, bukan sebab dia terlihat mempesona dengan pakaiannya.

Hari semakin gelap dan keriuhan di sekitar kami tiba-tiba ditimbuni bunyi tamborin (jawa gaul: kecrékan) serta suara melengking milik seorang pengamen yang…dari suaranya saja orang pasti sudah menebak jenis kelaminnya: labil. Terus terang, saya agak takut dengan makhluk model begini. Jenis manusia yang membuat kita merasa bersalah memanggilnya “Mas”, seperti halnya kita merasa berdosa jika memanggilnya “Mbak”. Tidak tahu kapan tepatnya bermula, saya memang selalu merasa panik dan ingin lari jika ada makhluk semacam ini mendekat. Seperti saat ini… .

Dua makhluk yang sulit diidentifikasi jenis kelaminnya itu memang mendekati lokasi saya dan teman saya menyantap batagor. Sambil terus bernyanyi dengan suara “khas”nya, dia menyapa siapa saja dengan sebutan apa saja. Pembeli cilok di gerobak sebelah dipanggilnya Mas Ganteng, sementara penjual ciloknya dia sebut Om.

Dan sampailah giliran kami, para penikmat batagor. Saat itu ialah saat di mana sendi-sendi tubuh saya sudah kaku. Antara rasa panik, usaha menenangkan hati, dan menahan diri agar tak buru-buru kabur. Si penyanyi mendekat, menggoyang-goyangkan tamborin sekaligus badannya sendiri tepat di samping saya, di hadapan tiga pria yang duduk lesehan menikmati batagornya. Tiga pria itu pun serentak cuek, padahal sebelum makhluk ini mendekat, mereka kelihatan antusias memperhatikan dari jauh.

Saya jadi punya kesempatan memperhatikan dengan seksama objek ketakutan saya ini. Ohh….dia memakai tengtop merah cerah, rok mini, dengan stoking jala-jala membungkus sepasang kakinya. Rambutnya panjang (definitely, it is wig), dan saya lebih suka menyebutnya acak-acakan ketimbang gaya. Dengan bulu mata panjang dan polesan yang serba tebal di seluruh permukaan wajahnya, mereka semakin menakutkan. Daya tarik mereka habis sampai di situ, tak berdaya menghadapi kami yang lebih tega tak memberi receh sepeser pun.

Batin saya kembali bergumam, “Apa yang dia pikirkan ketika memilih pakaian itu? Ingin tampak mencolok? Ingin kelihatan menawan? Ingin dibilang….sexy??”. Baiklah, jika tujuannya untuk menarik perhatian, maka mereka berhasil. Tapi tampaknya mereka melupakan kemungkinan, bahwa korelasi antara jumlah perhatian yang diterima dengan pendapatan yang mereka peroleh, bisa jadi negatif. Mengapa? Sebagian orang memilih menjauh ketika melihat sosok mereka, ketimbang mendekat dan menyodorkan uang.

See? Beberapa laki-laki mulai suka memamerkan tubuhnya sendiri. Baik dengan cara mengetatkan bajunya sendiri, atau memakai baju ketat milik wanita. Dalam teori konspirasi dunia, apa yang dilakukan para lelaki ini menegaskan dengan terang-terangan bahwa merekalah korban perang, perang pemikiran (ngaco jauh banget sih, tapi masuk akal kan?). Hehehehee… :D

Hhm…bagi Anda yang wanita, apakah sempat berpikir ingin punya pasangan hidup dari jenis laki-laki seperti di atas? Bagi Anda yang laki-laki, apakah ada yang kepikiran untuk menarik wanita-baik yang Anda idamkan dengan cara seperti di atas? Saya pikir, kedua pertanyaan itu jawabannya ‘tidak’. Jelas, karena semua wanita pada dasarnya menginginkan pasangan yang baik. Dan laki-laki yang baik, pasti akan menjaga penampilannya, agar dia tidak dinilai tak-baik.

So…saya belum mendapatkan jawaban dari “Apa yang mereka pikirkan ketika memilih pakaian itu?”.

Jumat, 20 Juli 2012

Tarawih Si Hidun

Malam tadi, malam tarawih pertama Ramadahan tahun ini. Seperti biasa, sebagai anak kos yang baik dan benar (hehee..), saya mengikuti ritual ini di mushola paling dekat kos, bersama teman kos, dan tetangga-tetangga kos.
Pukul tujuh tepat kami berangkat memenuhi panggilang muadzin. Sesampainya di pelataran mushola, o'oooo........kami adalah manusia ke-sekian yg datang untuk berjejal di teras mushola (seandainya jalanan depan mushola yg kebetulan disemen itu bisa disebut 'teras'), dan terancam tidak kebagian tempat. Shaff di depan tampak sudah penuh, bahkan jumlah penduduknya sepertinya melebihi kuota. Menengok ke belakang, tampak manusia berkostum putih-putih semakin banyak berdatangan. Alhasil, kami terima saja satu-satunya kesempatan yang datang: sudut paling tepi belakang, hasil gusuran tempat parkir sandal jama'ah.
Baiklah....abaikan saja gundukan sandal di samping, dan saya akan lanjutkan ceritanya!
Acara "dibuka" dengan sholat isya'.
Raka'at pertama... Seorang gadis kecil dengan mukena putihnya, ntah muncul dari mana, tiba-tiba sudah ada di sudut kiri shaff depan saya. Jarak kami mungkin hanya 1.5 meter. Dia berdiri menghadap barisan belakang, dan bergumam-gumam tak jelas. Mungkin mencari kerabat dan handai taulannya yg tidak bisa dibedakan dengan kostum jama'ah wanita ala malam itu. Hihihihiii...

Raka'at kedua...Gadis kecil itu seperti "surprised" (ehhmm...apa ya padanan katanya? bukan kaget atau terkejut sih, tapi surprised..). "Hidun......Hidun.......", katanya kepada jamaah kecil di barisan saya, sambil melambai-lambaikan tangan. Mungkin mereka teman akrab yang lama tak jumpa (halah!). Saya tidak tahu bagaimana reaksi jama'ah yang dipanggil itu (jika namanya memang Hidun. Kuat dugaan, ejaan yg benar adl Hindun). Tidak ada siluet gerakan yang berarti yg saya rasakan. "Hiduuunnn..... Hiduuunnn....Hiduuun....", gadis itu memekik semakin tak sabar.

Rakaat ketiga.... Gadis itu semakin bersemangat memanggil-manggil. Kali ini disertai ajakan, "Hiduuuunnn....cini! Ciniii.....! Hiduuuunnnn, cini Hidun..."

Raka'at keempat... Akhirnya inisiatif si gadis kecil itu tumbuh (bagus nak, teruskan!). Melihat reaksi teman sejawatnya yang datar, dia melangkahkan kaki-kaki kecilnya yang belum mantap menyangga tubuh; hap! hap! hap! Eaaa....injak sajadah satu, sajadah dua....sajadah saya....sajadah tetangga saya...sajadah tetangganya tetangga saya....dan sampailah dia di sajadah sang Hidun (selamat ya nak.., apa sih merk susunya?). Terjadilah suasana akrab bercengkrama antarsahabat di sajadah si Hidun itu...celoteh 2 gadis balita, dengan kata-kata yang sederhana dan pelafalan yang cedal, mengisi kekosongan suara selama ruku'-sujud-tahiyat akhir.

Setelah itu? Jangan tanya....sajadah si Hidun makin sesak, karena balita-balita lain akhirnya ikut berkumpul dan tak mau kalah berceloteh di situ. Ibu-ibu yang merasa kehilangan anak balita yang tadi dibawanya ke mushola pun sibuk 'memunguti' anaknya satu-satu dari TKP. Ada yg berakhir damai. Tapi ada juga yang memberontak. Celoteh akhirnya berlanjut, antara si ibu yang mencoba tetap berlembut-lembut, dengan si anak yang berteriak-teriak, kesal karena arisannya dibubarkan paksa.

Suasana di atas menyeret saya pada ingatan tentang malam-malam tarawih tahun demi tahun yang pernah saya lalui. Dan...aha! Ada sesuatu yang membuat suasana antar-malam antar-tahun dalam Ramadhan bagi saya mirip. Shaff wanita selalu riuh rendah oleh "bunyi khas" anak-anak. Jenisnya bermacam-macam...ada celotehan antar-anak, ada rengekan karena dicuekin ibundanya yang berdiri sedekap mematung tanpa ekspresi, ada yang tak putus asa mengajak ibunya mengobrol, ada yang berinsiatif menyibukkan diri dengan berkeliling ke shaf shaf lain lalu menangis karena lupa jalan kembali, ada juga yg pengen pipi lantas menarik-narik mukena ibunya (oke, mungkin ini kode yg sudah disepakati oleh si ibu-anak jika terasa sensasi pengen pipis), atau yg lebih parah....si anak menepuk-nepuk ibundanya yang sedang sujud sambil berkata, "Bunda, aku piiipiiis...".

Shaf laki-laki, sejauh yang saya lihat, selalu lebih tertib. Shaf nya lebih rapi, lurus....dan sunyi. Di masjid dekat rumah saya bahkan, bunyi yg keluar dari barisan jama'ah laki-laki biasanya hanya terdiri dari 2 macam: "Amin..." dan "Sstt...!". Yang terakhir itu biasanya dibunyikan sambil sedikit melirik ke belakang, ke shaf jama'ah wanita. Tujuannya? Jelas menyuruh shaf wanita dan seisinya untuk diam. Bagi saya, lirikan disertai desis 'Sstt...!" itu menyakitkan manakala suara yang saat itu merusak suasana khusyuk adl tangis bayi, atau rengekan anak-anak.

Tulisan ini hanya bahan untuk direnungkan (*jika Anda menangkap inti maksud saya :)